Ziarah Ramadhan di Makam Sunan Gunung Jati Meningkat, Tradisi Sakral Kembali Digelar

Cirebon, Veritanews.id — Menjelang datangnya bulan suci Ramadhan 1447 Hijriah, kawasan makam Makam Sunan Gunung Jati di Desa Astana, Kecamatan Gunung Jati, Kabupaten Cirebon, dipenuhi peziarah dari berbagai daerah. Peningkatan jumlah pengunjung terlihat signifikan dalam beberapa hari terakhir, terutama saat akhir pekan dan periode cuti bersama.

Arus kedatangan peziarah berlangsung sejak pagi hingga malam hari. Kompleks makam yang dikenal sebagai salah satu pusat wisata religi di Cirebon itu menjadi tujuan masyarakat yang ingin berziarah sekaligus mempersiapkan diri secara spiritual menjelang bulan puasa.

Juru kunci makam, Nasirudin, menjelaskan bahwa secara historis sosok Sunan Gunung Jati diperkirakan lahir sekitar tahun 1438. Hingga kini, situs tersebut tetap menjadi destinasi ziarah penting yang tidak hanya dikunjungi masyarakat lokal, tetapi juga peziarah dari berbagai daerah di Indonesia hingga mancanegara.

Menurutnya, lonjakan pengunjung dipengaruhi momentum libur akhir pekan dan cuti bersama sebelum Ramadhan. Ia memperkirakan kepadatan peziarah masih akan berlangsung hingga beberapa hari ke depan sebelum memasuki awal puasa.

“Menjelang Ramadhan biasanya pengunjung meningkat, terutama saat hari libur. Kemungkinan keramaian masih berlangsung sampai pertengahan pekan sebelum memasuki bulan puasa,” ujarnya saat ditemui wartawan, Senin (16/2/2026).

Memasuki awal Ramadhan, jumlah pengunjung diprediksi mulai berkurang, meski aktivitas ziarah tetap berlangsung. Sebagian besar peziarah berasal dari wilayah Cirebon dan daerah sekitar yang datang bersama keluarga.

Berdasarkan catatan buku tamu pengelola, jumlah kunjungan mengalami peningkatan cukup tajam. Para peziarah datang dengan berbagai tujuan, mulai dari berdoa di makam utama, mengunjungi makam keluarga di kawasan kompleks Gunung Jati, hingga menjalankan tradisi mandi di tujuh sumur yang telah berlangsung secara turun-temurun.

Nasirudin menyebutkan, tradisi ziarah tidak hanya dimaknai sebagai kunjungan spiritual, tetapi juga sebagai pengingat akan kehidupan dan kematian, sekaligus sarana menenangkan batin menjelang bulan ibadah.

Selain aktivitas ziarah, sejumlah tradisi khas masyarakat setempat tetap dilaksanakan selama Ramadhan. Kegiatan tersebut meliputi pembagian nasi panjang, bakti sosial, serta pembuatan ketan yang menjadi bagian dari warisan budaya masyarakat sekitar makam.

Rangkaian tradisi mencapai puncaknya pada tanggal 20 Ramadhan melalui prosesi yang dikenal sebagai “Banyu Bareng”, yakni kegiatan pembersihan berbagai benda peninggalan Sunan Gunung Jati yang selama ini dijaga oleh pengelola.

Sebelumnya, pada 18 Ramadhan, pengelola akan menurunkan “tadah alas” yang berada di area makam untuk dicuci. Dua hari setelahnya, tadah alas kembali dipasang bersamaan dengan prosesi pembersihan gamelan dan benda pusaka yang menjadi bagian penting dari tradisi pelestarian budaya di lingkungan makam.

Pengelola berharap tradisi yang telah berlangsung selama ratusan tahun tersebut dapat terus terjaga sebagai bagian dari warisan sejarah dan budaya religi masyarakat Cirebon. []

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *